"Mas Ippho jualan tanaman?" 
Ini tanaman ibu saya. Beliau yang menanam dan merawat selama 7 atau 8 tahun terakhir, jauh sebelum pandemi. Karena banyak dan nggak muat lagi di rumah, akhirnya saya putuskan untuk dijejer di depan rumah. Kayak jualan tanaman. Hehe.
Tumbuhnya tanaman nggak bisa di-gas dan di-gegas. Akar walaupun nggak kelihatan, harus diberi treatment yang sangat baik, seperti gemburnya tanah, cukupnya air, dan cukupnya pupuk. Bisnis pun begitu. Produksi, SDM, dan keuangan mesti kuat, walaupun kurang kelihatan.
Apa yang paling terlihat? Marketing biasanya.
Saya ingin semua fungsi berjalan lancar dan kuat. Karena itulah saya menggalakkan 'budaya tunai'. Mitra-mitra saat mengambil produk ke saya, diharapkan membayar tunai. Jadi, saya pun punya amunisi yang cukup untuk menjalankan fungsi produksi dan SDM.
Masih soal tunai. Saya pun melatih mitra-mitra untuk membeli kebutuhan apapun secara tunai. Paling minim, cash bertahap-lah (untuk properti). No leasing. No bank. Insya Allah ini lebih menentramkan.
Bayar Tunai = Hidup Damai
Pada akhirnya, kita semua ingin bisnis selalu bertumbuh seperti tanaman yang subur. Tapi yang lebih utama, kita semua ingin hidup yang tenang dan damai. Betul apa betul? Beli tunai mungkin salah satu kuncinya. Hidup damai. Saya harap teman-teman setuju.
(Ippho Santosa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar